Budaya Tato Pada Masyarakat Suku Mentawai
Mentawai merupakan sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Sumatra Barat. Kabupaten Mentawai sendiri, terletak sekitar 85-135 km dari pantai Sumatera Barat, dengan luas daratan kurang lebih 7000 km². Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten kepulauan yang terletak memanjang dibagian paling barat pulau Sumatera dan dikelilingi oleh Samudera Hindia. Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari serangkaian pulau non-vulkanik, dan gugus kepulauan itu merupakan puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut. Adapun suku asli yang tinggal di daerah ini, yaitu suku Mentawai. Suku Mentawai merupakan salah satu bukti keanekaragaman budaya Indonesia yang eksotik dan tak ternilai harganya.
Suku ini termasuk suku terasing yang hidup primitif di tempat terpencil. Geografis Mentawai memang sangat jauh dari wilayah Indonesia yang lain. Sebagai gambaran, jika perjalanan dimulai dari wilayah terdekat, yakni dari pelabuhan teluk Bungus Padarig, dibutuhkan waktu sekitar 10 sampai 12 jam menggunakan Kapal Ferry untuk sampai ke kepulauan Mentawai. Oleh sebab itu, suku ini kurang dikenal, tidak jarang salah sangka mengenai keberadaannya. Cara hidup dan budaya masyarakat Mentawai menjadi suatu misteri. Masyarakat Mentawai sering dicampur adukkan dengan suku Dayak di Kalimantan. Secara fisik, kedua suku tersebut memiliki kemiripan, bahkan dengan suku di belahan bumi lain, seperti di Hawai, Marchesi, dan Fiji yang berasal dari Lautan Teduh.
Nama mentawai diambil dari bahasa asli penduduk setempat, yaitu “SiMateu”. Ada pula yang beranggapan Mentawai berasal dari kata “ Simatalu”, yang berarti Yang Maha Tinggi. Simatalu ini juga merupakan nama sebuah daerah yang menurut cerita dahulu merupakan daerah yang menjadi tempat bermukim lelaki dari Nias yang bernama Amatawe. Sehingga dewasa ini dikenal sebagai tanah Mentawai. Selain itu, orang Mentawai disebut orang Pagai oleh orang-orang dari daratan Sumatra, terutama masyarakat Sumatra Barat.
Tato diperkirakan muncul pertama kali di Mesir pada tahun 4000 SM pada waktu pembangunan The Great Pyramids. Bukti tato Mesir yang tertua dengan peninggalan mumi Nubbian sehingga para ahli mengambil kesimpulan bahwa seni dalam membuat tato sudah ada sejak 12.000 tahun SM. Menjelang abad 2000SM, seni tato meluas hingga, menjelang tahun 1000SM keberadaan tato makin meluas, hal ini terjadi karena adanya difusi kebudayaan akibat migrasi penduduk. 2 Aliran difusionisme menjelaskan bahwa kebudayaan itu asalnya satu, kemudian menyebar ke seluruh dunia karena adanya perpindahan manusia akibat perubahan lingkungan alam. Difusi tato menyebar ke Timur Tengah, kemudian menyeberang melalui darat dan laut dataran India, China, Jepang, dan Kepulauan Pasifik.
Kelompok masyarakat yang tinggal di dalam grup mempunyai pengalaman hasil pembelajaran dan interaksi sesama. Mereka menggunakan kemampuan untuk mengekspresikan pengalaman mereka, yaitu membuat seni, lebih tepatnya seni tradisional. Dikatakan seni tradisional karena mempunyai beberapa karakteristik yaitu mudah, memiliki dua sisi, silsilah yang aneh dan si pembuat tidak memiliki pendidikan secara formal.
Dapat disimpulkan seni rakyat adalah keindahan sebuah grup, identitas, dan berharga. Ciri khas manusia adalah kemampuannya menciptakan simbol yang mempunyai makna tertentu, maka manusia disebut animal simbolicum (Earnest Cassiers, 1994).
Simbol merupakan salah satu bahasa nonverbal karena menggunakan lambang berupa benda, lukisan, binatang, sebagai contoh adalah tato. Tato adalah salah satu simbol mengekspresikan kebudayaan dan merupakan seni yang dapat dilihat. Melalui tato, beberapa suku di dunia dapat mengekspresikan apa yang mereka harapkan dalam hidup. Itu berarti tato menjadi salah satu alat yang dipergunakan masyarakat untuk mengungkapkan suara hati mereka dan menyampaikan ide. Tato juga dapat menjadi suatu simbol untuk mengidentifikasikan bahasa di dalam suatu kelompok masyarakat tertentu karena tato dapat mengar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar