Jumat, 18 Maret 2016

PULANG




Judul                 : Pulang
Penulis              : Tere Liye
Penerbit            : Republika Penerbit
Kota terbit        : Jakarta

Cetakan VII     : November 2015

BAB 1

Si Babi Hutan

Kisah ini dimulai dua puluh tahun silam, saat usiaku
lima belas.
Sejak pagi, kampung tanah kelahiranku ramai. Dua
bulan lagi ladang padi tadah hujan akan panen. Pucuk
padi menghijau terlihat di lereng-lereng bukit. Hutan lebat
menghadang di atasnya, berselimutkan kabut. Dedaunan
masih basah, embun menghias tepi-tepinya. Udara terasa
dingin, uap keluar setiap kali menghembuskan napas. Tiga
mobil dengan roda berkemul lumpur merapat di depan
rumah bapak. Hanya mobil tertentu yang bisa melewati
jalanan terjal Bukit Barisan, lepas hujan deras tadi malam.
Dua belas orang lompat dari mobil-mobil itu. Mereka
memakai sepatu bot, celana tebal, jaket, topi, terlihat gagah.
Tapi, yang paling menyita perhatianku, mereka membawa
senapan. Itu bukan kecepek, senapan api rakitan kampung
yang pernah kulihat, melainkan senjata api milik pasukan
militer.
Otakku langsung berpikir, jangan-jangan di ransel

mereka juga ada bertampuk granat. Tapi itu berlebihan,
aku mengusap wajah yang terkena jaring laba-laba.
Demi melihat mobil-mobil itu, bapakku beringsut
turun dari anak tangga. Ia berpegangan, menyeret kaki–
nya yang lumpuh satu seraya tertawa lebar mendekati
rombongan. Aku jarang melihat bapakku yang sakitsakitan
tertawa selepas itu. Biasanya dia lebih banyak
mengomel, marah-marah. Salah satu dari rombongan itu
mendekat, sepertinya pimpinan mereka, juga ikut tertawa
lebar. Mereka berpelukan dan menepuk bahu, seperti
sahabat lama.
“Samad, lama sekali kita tidak bertemu,” orang itu,
dengan mata sipit, berseru. Usianya kutilik sebaya dengan
bapak, berkisar lima puluh. Tubuhnya pendek, gempal, hanya sepundak bapak.
Bapak terkekeh. Balas menepuk punggung.
“Bagaimana perjalanan kalian, Tauke Muda?”
“Buruk, Samad. Tadi malam kami hampir tersesat.
Satu mobilku juga hampir terguling ditelan lembah gelap.
Satu lagi pecah bannya, masih tertinggal di belakang.
Semoga tiba di sini sebelum petang atau rencana kami jadi
tertunda. Mobil itu membawa tiga ekor anjing pemburu.
Astaga! Bagaimana ceritanya kau bisa tinggal di sini,
Samad?
Jauh dari mana pun, seperti di ujung bumi.

Susah sekali kami menemukannya. Dan menjadi petani?
Sejak kapan orang yang hanya mengenal berkelahi bisa
menanam padi, hah? Kau pukul padinya?”
“Panjang ceritanya, Tauke Muda.” Bapak tertawa lagi,
menggenggam lebih kokoh tongkatnya, “Kalian naiklah
Orang bermata sipit itu mengangguk. Berseru me–
merintah rombongannya.
Aku berdiri di dekat anak tangga, mendengar
percakapan. Beberapa warga kampung lain juga ikut
menonton keramaian. Mereka berdiri di halaman rumah
bapakku, tertarik menatap mobil jip dengan roda besarbesar.
Jarang sekali mobil masuk kampung kami.
Aku tahu siapa rombongan ini, aku sudah diberi tahu
bapak sejak sebulan lalu. Akan ada pemburu dari kota
yang datang. Mereka akan berburu babi hutan.
Kampung kami ini sebenarnya tidaklah seperti desa
yang kalian kenal. Kami menyebutnya talang. Hanya ada dua atau tiga puluh rumah panggung dari kayu, letaknya
berjauhan dipisahkan kebun atau halaman. Jika hendak
memanggil tetangga, kalian bisa membuka jendela lantas
berteriak sekencang mungkin—itulah kenapa intonasi
orang pedalaman Sumatera terdengar kasar. Tahun ini
babi hutan menyulitkan kami. Mereka banyak sekali dan
menyerbu ladang. Jika tidak diatasi, ladang padi yang
susah payah dirawat bisa rusak binasa. Meski tiap malam
ladang padi dijaga, dipasangi kaleng pengusir, juga
dilingkari pagar kokoh, hasilnya percuma. Babi-babi itu
selalu punya cara masuk, tidak takut suara kaleng, dan
jumlah mereka puluhan atau mungkin ratusan. Tetua
kampung sudah menyerah, tapi bapak tidak. Dia bilang
akan meminta bantuan pemburu dari kota.
“Apakah kita harus membayar mereka, Samad?” Tetua
kampung bertanya cemas.
Bapak menggeleng dalam pertemuan sebulan lalu,
“Tidak sepeser pun, Bang. Mereka memang suka berburu
babi. Itu hobi orang kota. Mungkin beberapa babi
akan dibawa oleh mereka, untuk dimakan. Hanya itu
bayarannya.”
Aku yang juga ikut di pertemuan, langsung bisa
menyimpulkan. Itulah pasti orang-orang yang boleh
makan babi. Karena mamakku di rumah bilang berkalikali,
babi haram dimakan.
“Bujang!” Bapakku berseru dari atas, sudah naik teras
rumah panggung, “Kau bantu mamak kau menyiapkan
makanan. Jangan hanya berdiri tak guna di bawah sana.”
Aku mengangguk, segera menaiki anak tangga.
Lima belas menit berlalu, dua belas pemburu itu
sudah duduk di atas hamparan tikar. Senjata api mereka diletakkan berbaris di balai bambu. Juga ransel, senter
besar, tali, jaring, dan peralatan lain. Aku segera tahu,
menilik gerakan cekatan, mereka pastilah pemburu
berpengalaman. Yang tidak aku duga adalah, bapakku
ternyata kenal dekat dengan pimpinan rombongan ini.
Mereka duduk berdekatan di sudut tikar, bercakap seperti
sahabat lama tak bersua.
“Kemari kau, Bujang,” bapakku berseru lagi.
Aku yang sedang mengangkat ceret berisi kopi panas
menoleh.
“Ayo!” Bapakku melotot, tidak sabaran.
Aku bergegas melangkah ke sudut tikar.
“Ini anakku, Tauke Muda,” Bapak menunjukku.
“Usianya lima belas. Namanya Bujang.”
“Ah, jadi ini anak laki-lakimu, Samad?” Orang
bermata sipit itu menatapku dari ujung kepala hingga
kaki, “Tubuhnya gagah besar seperti bapaknya. Sudah
seperti pemuda dewasa. Matanya hitam tajam. Aku suka
dia. Kelas berapa kau sekarang?”
Bapakku menggeleng, tertawa, “Tidak sekolah. Seperti
bapaknya.”
Orang bemata sipit masih menatapku, “Kemari,
Bujang. Lebih dekat.”
Aku melangkah lagi, duduk dengan lutut di tikar.
“Apakah kau pandai berburu babi hutan seperti
bapakmu?”
“Jangan harap.” Bapak terkekeh, memotong jawaban,
“Dia bahkan tidak pernah masuk hutan sendirian. Mamak–
nya sangat pencemas.
Semua serba dilarang, takut sekali

anaknya terluka. Mentang-mentang anak satu-satunya.”
Orang bermata sipit mengangguk-angguk takzim.
“Kau mau ikut berburu nanti petang?”
Aku mengangguk dengan cepat—bahkan sebelum
melihat ekspresi wajah bapak yang duduk di sebelah.
“Bagus sekali! Mari kita lihat seberapa hebat kau di
dalam sana. Bapak kau ini dulu, adalah pemburu yang
hebat. Berikan senapan padanya, dia akan menjatuhkan
satu per satu babi.”
Itu percakapan yang terlalu cepat. Bahkan sebelum
aku menyadarinya, aku telah memperoleh tiket emas yang
selama ini aku idamkan. Setengah jam kemudian, di dapur. Wajahnya
yang berkeringat karena sedang memasak gulai, nampak
masam. Tapi bapak meyakinkan kalau semua baik-baik
saja. Mereka bicara khusus tentang izin berburu untukku.
Mamak melengos, menatap kuali berasap.
“Ayolah, Midah. Tauke Muda memintanya sendiri,
dan harus berapa kali aku bilang, kita tidak bisa menolak
permintaannya. Aku berutang segalanya.”
Mamak hanya diam, menyeka pelipis. Tapi sepertinya
dia bisa memahaminya, dan akhirnya mengalah. Hal yang
jarang sekali dia berikan jika menyangkut diriku.
“Jangan buat aku malu, Bujang.” Bapak menatapku
tajam. Ia kemudian melangkah ke depan, kembali ber–
gabung dengan rombongan dari kota.
Aku mengangguk. Aku tahu maksud tatapan bapak.
Mamak mencengkeram lenganku, berbisik lembut,
“Mamak mengizinkanmu pergi. Tapi berjanjilah, kau
hanya menonton di hutan sana, Nak. Kau tidak akan
melakukan apa pun. Hanya menonton yang lain berburu.”
Aku mengangguk. Aku juga tahu maksud tatapan
mamak.
“Jangan lakukan hal bodoh di rimba sana! Kau dengar,
Bujang?” Mamak memastikan.
Sekali lagi aku mengangguk.
Siang hari, lepas matahari tergelincir di titik puncak–
nya, mobil keempat akhirnya tiba di halaman rumah.
Penumpangnya hanya dua orang. Sisanya, tiga ekor anjing
pemburu diturunkan. Anjing-anjing berbadan besar itu
menyalak galak, membuat ramai halaman. Beberapa
pemburu berusaha menahan rantai yang terikat di leher
anjing, berusaha menenangkan. Sepertinya anjing-anjing
ini bersemangat, seolah bisa merasakan babi-babi di dekat
mereka. Beberapa pemuda kampung juga telah tiba. Ada
delapan orang, empat di antaranya datang dari talang
lain yang jaraknya belasan kilometer. Ladang mereka juga
terganggu oleh hama babi hutan, jadi mereka menawarkan
diri membantu.
Semua orang makan siang di hamparan tikar teras
rumah panggung. Mamak mengeluarkan masakan yang
dia siapkan sejak kemarin. Juga tetangga, mereka ikut
membawakan makanan. Rumah bapak semakin ramai.
Lepas makan, mereka bersiap-siap untuk terakhir
kalinya. Para pemburu mengenakan ransel, memeriksa
perlengkapan, dan menyambar senapan. Persis pukul tiga
sore, para pemburu siap berangkat.
Aku memegang kokoh tombak yang dipinjamkan
bapak. Tombak itu terbuat dari kayu trembesi dengan
ujung logam tajam. Kakiku tidak mengenakan alas apa
pun, tidak punya. Lagipula, anak kampung lebih suka
masuk hutan dengan telanjang kaki.
“Jaga anakku, Tauke Muda. Atau mamaknya akan
marah melihatnya pulang terluka walau sesenti,” bapak
menepuk bahu orang bermata sipit.
Orang itu menggeleng, “Kau keliru, Samad. Dialah
yang akan menjagaku. Seperti yang pernah kau lakukan
untuk ayahku dulu.”
Bapak tersenyum, mengangguk.
Aku berdiri di belakang, mendengarkan.
Setelah sejenak basa-basi, kami akhirnya berangkat.
Mamak berdiri di atas anak tangga bersama ibu-ibu lain,
menatapku penuh rasa cemas. Aku melangkah mantap
mengikuti rombongan. Mulai mendaki lereng, melewati
jalanan setapak, menuju jantung rimba Sumatera.
Anjing pemburu kembali menyalak bersahutan setelah
kami berjalan setengah jam masuk hutan. Penciuman
mereka yang tajam langsung tahu di mana babi-babi itu
berada. Rombongan dipecah tiga, sesuai jumlah anjing.
Aku ikut orang bemata sipit, teman lama bapak, bersama
dua pemburu bersenjata api, dan tiga pemuda kampung.
Ini mengasyikkan sekali. Atmosfer perburuan segera
terasa. Langit-langit rimba Sumatera terasa lembap. Kami
berlarian mengikuti gerakan anjing. Menyibak semak,
melompati sungai kecil, batang kayu melintang, meniti tubir lembah, mendaki, dan meluncur. Ke mana pun anjing
itu berlari, kami ikut berlari di belakangnya.

Bapakku bergurau saat bilang aku tidak pernah sendirian masuk ke
hutan, karena sebenarnya aku sangat mengenal hutan ini.
Jika mamakku tidak tahu, aku sering sembunyi-sembunyi
pergi berkelana di dalam rimba. Kadang sendirian, kadang
bersama anak-anak talang lainnya. Tubuhku melesat
lincah, tidak kalah dengan pemburu lain.
Lima belas menit sejak rombongan berpisah menjadi
tiga, anjing kami mulai menyalak berbeda, tanda dia telah
menemukan mangsa. Benar saja, satu menit kemudian,
dua ekor babi terlihat di atas lereng, masih empat puluh
meter lagi dari kami. Babi-babi itu menguik. Menyadari
bahaya mengancam, mereka segera lari lintang-pukang.
“Dua orang bergerak ke kanan! Sisanya ikut denganku
ke kiri!” Orang bermata sipit menyuruh dua pemburu dan
tiga pemuda talang berpencar. “Kepung babi-babi itu.
Jangan biarkan lolos.”
Kami segera mengejar, mendaki lereng bukit. Lima
menit dengan napas tersengal, kami berhasil membuat
babi itu tersudut. Suara senapan meletus susul-menyusul,
dua babi itu akhirnya terkapar di tanah.
Darah merah

membuat basah dedaunan kering. Kami beranjak
mendekat, menatap dua ekor babi itu. Tidak besar, paling
seberat delapan puluh kilogram.
“Selamat, Bujang. Ini babi buruan pertama kita.”
Tauke Muda menepuk pundakku.
Aku mengangguk.
“Kita bergerak lagi!” Tauke Muda berseru ke pemburu
dan pemuda talang.
Kami hanya sebentar memeriksa, lantas meninggal–
kan begitu saja dua babi itu. Kami segera mencari buruan
berikutnya. Anjing menyalak tidak sabaran. Rantainya
kembali dilepas, kaki-kakinya melesat berlarian di antara
rapatnya pepohonan.
Waktu itu, berjalan cepatdan tidak terasa. Dua jam berburu,
sudah enam belas babi terkapar. Lima belas di antaranya
ditembak mati, dan satu lainnya terkena tombak pemuda
talang. Kami terus bergerak, efisien, dan tanpa ampun.
Babi-babi ini tidak punya kesempatan untuk menghindar,
apalagi melawan. Pemburu ini menghabisi setiap babi
yang terlihat, termasuk yang masih kecil, menguik tidak
berdaya.
Menjelang petang, hujan turun. Rombongan berhenti,
pemburu membuka ransel.
“Kau kenakan jaket hujan ini, Bujang.” Tauke Muda
melemparkan jaket gelap.
Aku mengangguk.
“Kau sepertinya pendiam sekali, Bujang. Tidak
pernah kulihat kau bicara sejak tadi. Bahkan tersenyum
pun tidak.” Tauke Muda menatapku.
Aku tidak berkomentar, mengenakan jaket hujan.
Kami segera melanjutkan perburuan. Empat babi
hutan berikutnya menyusul terkapar, ukurannya semakin
besar. Matahari akhirnya terbenam di kaki langit sana,
hutan semakin gelap. Para pemburu mengeluarkan
senter dan memasangnya di kepala, membuat cahaya
menyambar ke sana-kemari di antara pepohonan. Hujan
turun semakin deras. Meski dengan jaket hujan sekalipun,
aku tetap basah kuyup.

Aku tidak tahu apa kabar dua rombongan lain,
mungkin mereka juga sudah menembak banyak babi. Kami
terus bergerak masuk ke dalam rimba. Pohon semakin
besar dan tinggi. Lumut menumpuk, pakis dan perdu
berukuran raksasa membuat gerakan terhambat. Aku tidak
Malam itu usiaku memang baru lima belas, tapi
fisikku tinggi besar seperti seorang pemuda. Usiaku memang masih anak-anak, tapi di darahku mengalir pekat
keturunan seorang jagal paling mahsyur seluruh Pulau
Sumatera. Bapakku belum bercerita, tapi besok lusa aku
akhirnya tahu legenda hebat itu. Adalah Kakekku jagal
mahsyur itu. Bisikkan nama Kakekku satu kali di lepau
tuak, maka satu kota akan memadamkan lampu karena
gentar. Sebutkan nama Kakekku satu kali di balai bambu.



BAB 2



Janji Kepada Mamak

Esoknya, bapak dan mamak saling bertengkar dibelakang rumah.
'' apa yang kau harapkan dari anak laki-lakimu mumidah?akan kukirim dia mengaji dengan tuanku imam? akan ku kirim dia ke kampung halaman tempatkau lahier kerabatmu hanya akan tertawa melihatnya, bagus mereka tidak meludahinya.
mamak menangis diam diam '' lihat lah aku midah lihat!, sejak kecil aku berusaha melupakan asal keturunanku, belajar mengaji dan bermalam di surau. aku SUDAH BERYUSAHA MELEPASKAN SEMUA CATATAN GELAP MILIK KELUARGAKU.
merekatuidak bisa menerima keadan jikaku berbeda dengan bapakku
karna yang paling menyakitkan aku harus pergi meninggalkan mu seluruh cinta kita hancur
aku duduk memeluk lutut dipojok dapur mendengar seluruh percakacapan
mamak diam kehabisan kata-kata . bapak menggengam jari mamak kali ini berkata lirih. biarkan dia pergi dengan restumu agar langkah kakinya ringan.
'' apakah kau inginpergi bujang, suara mamak bernanda sedih''
aku menatap wajah lelah mamak. siang itu mamah membuntaliku pakain dan mengikhlaskan kepergianku.
''kau boleh melupakan mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini apapun yg kau lakukan bujang berjanjilah kau jangan makan daging babi''. selamat tinggal,samad''
aku menatap wajah bapak terakhir kalinya. bapak tersenyum '' semalat tinggal samad''


BAB 3

Shadow Economy


DUA PULUH TAHUN MELESAT CEPAT.
Ruanganv dengan nuansa tradisonal itu terlihat nyaman. lantai mamrmernya mengkilap
ada meja marmer terbuat dari kayu jati pilihan danlukisan karya maestro ternama. pintu ruangan di buka, aku menoleh berdiri di kursi dua orangmasuk salah satunya sosok yang paling sering di liput
dan diberitakan di media nasional belakangan. Wajahnya menghiasi layar kaca, surat kabar, dunia maya ia mengenakan kemeja putih lengan panjang.
''sekali lagi, bapak calon pesidenaku tidak datang untuk minum, dan jelas sekali aku tidak datang untuk berbasa-basi. Suaraku menggantung di ruanga.
orang dengan kemeja putih itu terdiam. hanya sebentar, kemudian kembali tersenyum hangat ikhlas seseorang yang pandai mengendlikan diri. aku tau keahlian itu sangat di perlukan bagi orang yang memerlukan suara. aku harusnya berkampanye di kota ini ''orang-orang memanggilku babi hutan, aku jawab dengan santai.
kali ini rangan yang penuh menjadi lengangang, ekspresi orang berkemeja putih berubah sekarang.
tidak ada yang melucu saat ini,baiklah kalau begitu apa yang kubisa bantu. aku meraih sesuatu dari jas ku. menariknya adalah seberapa besar shadow economy? aku meletakan majalah terkemuka di dunia yang berisi orang-orang terkenal.
daftar orang-orang terkaya ini adalah lelucon, meski di tulis besar-besar dengan headline, seratus orang terkaya bandingkan dengan nilai teransaksi.
'' satu darisekian banyak kapal milik keluarga shadow economy. bahkan satu diantara 12 lembar
milik shadow economy. ada lebih dari 400 juta ternaga kerja di negri ini bekerja untuknya.
jika dia adalah jagal dunia hitam maka tak kelak lagi dia adalah jagal nomer 1 jenius kuat dan di takuti. itulah penyebab aku membatalkan kampanye di kotaku.


BAB 4

Penunggu Kuda Suku Bedouin


Mobil sedan hitam gelap yang kukendarai meluncur di jalan padat ibu kota, gesit melintas diselal sela pengendara lain. telfon berdering di sebelah jok
''hallo bujang kau ada di mana sekarang?''
''  menuju bandara basyir''
''kau telah selsai mengurus si nomer 2''
''ya''
''ada masalah apa? kau butuh bantuanku''
''tidak''
basyir tergelak sebentar di seberang telefon, dia seperti melihat hantu
ku  pikir kau akan menyumbang dana ratusan miliyar , aku harus tiba dihongkong
sebelum jam 8 malam, aku sudahseparuh perjalanan menuju bandara
kau bisa menggantikan ku. basyir adalah orang pertama saatku tiba di kota provinsi, duapuluh tahun lalu 4 mobil jeep melintas saat gerimis wajahku menempel di jendela mobil
sambil menatap lampu jalanan yang di bungkus hujan.